Masalah bs dtg dr mana saja. Bisa soal keluarga, soal dg teman, atau mungkin jg bs krna soal pacar. dan pasti bgmn kalo lg ada masalah tentu km tahu seperti apa rasanya kan?
Lebih berat lagi jk masalah itu bertumpuk, satu blm slese ketambah lg masalah baru. apalagi jk masalah juga berkaitan dg org terdekatmu, dengan pacarmu atau dengan kariermu, lebih-lebih jika sudah menentukan masadepan kamu.
Rumit dan pastinya hari-hari jd tidak enak jk org lagi dirundung masalah. dunia trasa jd gelap saat masalah yg dihadapi tak jua kunjung pergi. Koondisi seperti itulah yg pernah dialami tokoh kita yg ingin mimin cerita pada kalean saat ini. semoga ada manfaatnya. Ceritanya begini...
Tokoh kita kali ini seorang yg dulu kaya, dia pengusaha, dan akhirnya bangkrut. hutang menumpuk dimana2, keluarga berantakan tak karuan. istri yg diharapkan mampu menghibur dukanya malah minggat dg selingkuhannya, anak terjerat narkoba. tiap hari org dtng nagih utang padanya
Tokoh kita kali ini merasa tak ada org yg mau peduli dg dirinya, tak ada tempat yg bisa dijadikan curhat, karena semua menghindarinya. Tentu sangat berbeda ketika saat org jaya banyak org berbondong dtng, giliran jatuh mrk pergi menjauh. itulah kehidupan dan itulah yg dialami tokoh kita. situasi tadi mungkin banyak org pernah mengalami. dg temen kuliah atau teman lain, mungkin kalaian pernah menjumpai type tmn munafik gitu
Tokoh kita mncoba utk menghadapi skuat tenaga masalah hidupnya yg kian pelik dan rumit. Namun lama2 tak sanggup jg ketika masalah kian berat. Ketika Tokoh kita nyaris putus asa dan frustasi, krn persoalan kian tambah banyak, akhirnya ia ingat dg temen kecilnya dikampung dulu. Maka singkat cerita, bertemulah Tokoh Kita dg sahabat jaman SD yg kini sdh memimpin sebuah pondok pesantren yg berada ditepian telaga indah disebuah kaki gunung yang sejuk.
kebahagian pecah ketika dua sahabat yg terpisah 20 tahun lbh itu kmbali bersua. Tokoh kita bs ketawa lepas saat mengenang masa kecilnya. cerita mengenang masalalunya membuat tk terasa bertemuan sdh lima jam lebih. dan ketika mau pulang, tokoh ketika cerita tentang masalahnya.
"Belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," ujar Tokoh Kita
mendengar keluhan Tokoh Kita, sahabatnya itu hanya tersenyum dan berkata, "Ayo sebentar ikut aku, kita ke telaga disana..."
Tokoh kita hanya melongo ketika sahabatnya itu malah menyodorkan gelas dan seplastik garam kepadanya... "Bawa gelas dan garam ini, aku ingin memperbaikan suasana hatimu. ayo kita ketepian telaga," ajak sahabatnya kpd Tokoh Kita yg semakin heran
Sesampainya ditepian telaga, Tokoh Kita disuruhnya ambil air dg gelas. Lalu disuruhnya diisi dg garam separuh gelas dan disuruh meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" | "Asin, dan perutku jadi mual," jawab Tokoh Kita dengan wajah yang masih meringis. Sahabatnya tersenyum kecil
"Skrng, garam yang tersisa itu tebarkan ke danau" | Tokoh Kita kemudian menyebar semua sisa garam ke telaga.
"Sekarang, coba kau minum air telaga itu" | Tokoh Kita menangkupkan kedua tangannya, mengambil air telaga dan lgsg meminumnya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Tokoh Kita merasakan kesegaran luar biasa
"Bagaimana rasanya?" | "Segar, segar sekali," kata Tokoh Kita sambil mengelap bibirnya dg punggung tangannya
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" | "Tidak sama sekali," kata Tokoh Kita sambil mengambil air dan meminumnya lagi
"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam ibaratnya" ujar sahabatnya itu
"Banyaknya masalah dan penderitaan yg hrs kau alami sepanjang kehidupanmu itu sdh ditakar oleh Tuhan, sesuai utk dirimu" ujar sahabatnya lg
"Tdk ada satupun manusia yg lahir ke dunia ini, walaupun seorang Nabi pun, yg bebas dr penderitaan dan masalah" lanjut sahabatnya lagi
"Rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dr besarnya hati manusia yg menampungnya. Jadilah telaga, jangan jadi gelas"
"Jadi supaya tidak selalu merasa menderita, mulai skrng kau berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dan jiwa dlm dadamu itu jadi sebesar telaga"
Mendengar nasehat indah dari sahabatnya itu, sejenak Tokoh Kita diam termenung, kemudian tersenyum menatap lalu memeluk erat sahabatnya itu
Sekian cerita yang berjudul: Hati Yang Telaga. Semoga ada manfaatnya bagi yg saat ini merasa memiliki masalah kehidupan. TAMAT
